Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 April 2012

My Dream Board


Teman, aku ingin menanyakan tiga pertanyaan untukmu.
Pertanyaan pertama : Adakah orang di dunia ini yang tidak punya mimpi ? Pasti semua akan menjawab “TIDAK”.
Baiklah, aku akan bertanya lagi, siapa yang saat ini punya deretan mimpi yang ingin dicapai ? Jawabannya sudah dapat aku tebak, pasti serentak menjawab “SAYA”.
Oke, pertanyaan terakhir  berapa banyak mimpi kalian yang sudah terwujud teman ?  Semoga satu persatu mimpi kalian telah tercoret dan saat kalian membuka mata untuk menatap hari baru, maka saat itulah perjuangan untuk mencapai mimpi selanjutnya akan dimulai.

                Begini teman, ketika aku menjelajah ke blog sebelah aku lihat beberapa tulisan yang mengatakan bahwa ia telah berhasil mencapai mimpi yang selama ini tak pernah terbayangkan baginya. Lalu munculah pertanyaan dalam benakku, “Sampai saat ini Ntan, sampai usiamu hampir berkepala dua mimpi apa saja yang telah kau capai ? “
                Aku pun mulai memikirkan jawabannya, “Mimpi apa yang aku capai ataukah aku baru saja memulai menuliskan mimpi-mimpi itu ? ” Aku tak tahu apakah ini dikatakan sebagai keterlambatan atau bagaimana karena aku menyadari pentingnya menulis mimpi-mimpiku jauh setelah orang lain menyadari akan kekuatan mimpi.  Alasanku emngatakan keterlambatan adalah karena selama ini aku tak pernah menuliskan mimpi-mimpiku, aku hanya membayangkannya dan aku pun tidak berani bermimpi yang sangat tinggi. Takut jatuh, itu alasanku.
Kalau diingat-ingat, pertama kali aku menuliskan mimpi-mimpiku dalam sebuah kertas yaitu ketika ada acara motivasi persiapan Ujian Nasional semasa kelas tiga SMA. Sehari sebelum acara itu dimulai, aku dan teman-teman sibuk mengumpulkan peralatan berupa kertas manila putih, spidol aneka warna, alat tulis, gunting, lem, majalah bekas, dan satu benda  special “foto orang tua”. Aku tak tahu alasannya mengapa kami disuruh membawa pernak-pernik semacam itu, bukankah ini acara motivasi? Karena alasan yang tidak jelas, maka aku pun membawa majalah seadanya. Saat itu aku membawa majalah wanita, itupun aku dapatkan dari tetangga. Benar-benar  ga modal. Bahkan aku sengaja mengambil foto bapak ibuk yang terbingkai indah di dinding untuk aku bawa. “ Yang penting bawalah, kan cuma acara motivasi “, pikirku. Sampai akhirnya aku tahu, bahwa apa yang aku bawa itu yang nantinya akan menjadi motivasi terbesar dalam diriku.
Saat itu pembicara yang diundang sekolahku bukan pembicara acak-acakan, beliau adalah seorang motivator yang sudah melanglang buana, dan beliau juga sudah menerbitkan beberapa buku.  Namanya siapa aku lupa, yang jelas beliau beda dikit lah sama Pak Mario Teguh, 11-12 ( ini bentuk apresiasiku terhadap beliau ). Siapapun beliau, kalau Anda tidak sengaja membaca tulisan saya ini maka satu kata yang ingin saya ucapkan “Terima Kasih”.  Saat itu beliau, bapak yang aku lupa namanya menyuruh kami menyiapkan peralatan yang kami bawa, kemudian meminta kami  mencari gambar apapun dari majalah yang kami bawa dimana gambar itu bisa mendiskripsikan mimpi masing-masing. Kemudian tempelkan di kertas manila, ditulisi dan dihias sebagus-bagusnya.  Hal terpenting yang tidak boleh dilupakan adalah memberikan judul, tepat ditengah-tengah kertas  harus ditulisi “My Dream Board”, kemudian lanjutkan tulisan “Bismillahirohmanirohim”, tak lupa di bagian kertas paling bawah pun diberi tulisan “Alhamdulillah mimpiku sudah terwujud”.
Aku pun mulai membolak balik majalah yang aku bawa, sibuk menggunting sana sini dan menempelkannya di kertas. Tak banyak yang aku tempelkan, hanya beberapa, dan menurutku itu sudah mewakili mimpi-mimpiku saat itu. Berikut daftar gambar yang aku tempel beserta eksekusinya.
1.       Tepat di bawah tulisan “My Dream Board” aku menuliskan lulus Ujian Nasional dan kuliah di universitas yang aku inginkan (STAN).

Mimpikupun terwujud. Aku berhasil memperoleh kemenangan dengan mengantongi ijasah kelulusan. Begitulah kehidupan, harus ada penyeimbang, ketika ada keberhasilan maka harus ada kegagalan. Begitu pula mimpiku, aku berhasil lulus Ujian namun aku tak berhasil masuk perguruan tinggi yang sejak aku SD menjadi cita-cita banyak orang ( aku, orang tuaku, kakek nenek, bahkan tetangga terdekatku ). Saat itulah aku mengalami kekecewaan dan kesedihan  yang sebelumnya tak pernah terjadi. Sungguh sulit untuk bisa bangkit dan menerima kenyataan. Aku bahkan menyimpan cerita ini sangat rapat hanya untuk aku dan orang-orang tertentu. Itu masa lalu yang kelam, namun aku sudah berdamai dengan masa laluku, dan aku akan membagi kisahnya.

Kamis, 19 April 2012

Pintu pagi cuek moody

Cerita pagi . .
Selamat pagi . . .
 “ Terima kasih Tuhan, telah memberikan satu kesempatan lagi untukku melihat dunia, menikmati indahnya hidup bersama orang-orang yang aku sayangi ”
Pagi hari menandakan hari baru bagi semua orang bahkan bagi semua makhluk di dunia ini. Ketika matahari mulai menampakkan kembali sinar hangatnya maka mulai saat itulah berbagai pintu kesempatan terbuka lebar bagi semua yang menginginkannya.  Tinggallah kita, akan menjadi orang yang berjalan melewatinya dan berusaha meraih mimpi kita. Ataukah kita akan menjadi orang yang terus berlari namun tak berhasil mencapai pintu tersebut. Karena satu pintu hanya akan terbuka satu kali. Tidak akan pernah ada kesempatan yang sama, terbuka untuk kedua kalinya.
Hari sudah beranjak siang ketika aku menulis ini, jam digital di pojok kanan layar laptopku menunjukkan pukul 11:36 AM. Pagi ini sudah hampir berlalu. Pintu-pintu itu pun sudah mulai menghilang. Entah sudah berapa pintu yang tak aku coba untuk datangi, dan entah berapa pintu juga yang telah berhasil aku masuki. Bahkan ketika aku menulis ini pun berarti aku menggunakan kesempatan untuk menulis ketika dosenku tak hadir. Tentunya akan banyak hal lain yang bisa aku lakukan di pagi hari ini. Mungkin aku akan mengerjakan tugas yang besok akan diambil nilainya, atau aku belajar mengulang materi beberapa  mata kuliah mengingat UTS sudah di depan mata, atau malah aku memilih membaca komik, atau yang lainnya. Banyak sekali. Namun dari banyaknya pilihan kegiatan yang bisa kulakukan, maka aku memilih untuk menulis satu karangan yang aku pun belum tahu bagaimana meneruskan ceritanya.
Aku lihat sekelilingku, kelas sudah mulai terlihat kosong. Beberapa teman yang masih enggan beranjak dari singgasananya terlihat begitu sibuk. Mereka pun memilih pintu-pintu kesempatan yang berbeda antara satu dengan yang lain. Ada yang mengerjakan tugas membuat presentasi, tugas PHP, browsing, menulis sepertiku, bahkan ada juga yang makan. Padahal jelas-jelas di dinding tertempel gambar gelas dan kotak makan yang di coret. Semua orang tahu bahwa itu rambu-rambu larangan makan di lab, namun begitulah tabiat manusia tidak akan kebal. Bukankah, peraturan itu dibuat untuk dilanggar? Entah sudah sejak kapan kalimat itu mulai tersebar di Indonesia, namun yang aku tahu, kalimat itu akan berumur panjang dan turun temurun.
Teman, jika kau kemarin membaca tulisanku, maka disana aku bercerita tentang mood ku yang mendadak jelek pagi kemarin. Dan disana aku juga menuliskan bahwa kita tidak seharusnya terkendalikan oleh mood namun kitalah yang akan mengendalikannya. Lalu, bagaimana pagiku saat ini. Maka aku akan tersenyum menjawabnya karena penyakitku itu tak lagi kambuh, moodku bersahabat denganku. Sebenarnya teman, pagi ini pun tak semulus yang aku harapkan. Pastilah ada suatu hal yang berusaha meruntuhkan mood baikku. Namun, semua itu bisa aku atasi. Perlu kalian tahu, terkadang tidak terlalu memikirkan ucapan orang lain itu penting, karena selain Allah, hanya kita dan orang-orang yang berkenaan dengan kita yang tahu sebenarnya. Sedangkan yang lain, hanya mengatakan berdasarkan apa yang bisa mereka lihat. So, terkadang cuek itu perlu teman.  Namun cuek itu juga tidak bagus, mungkin akan terkesan egois dan individualis. Yah, jika kita menempatkannya dalam  situasi yang salah. Jadi intinya tempatkan cuek dalam situasi yang tepat, maka dia akan sangat berguna.
Jam digital di pojokan layar laptopku sudah berubah, sekarang angkanya berganti menjadi 12:16 AM. Suasana di kelas masih sama, hanya bertambah suara teman-temanku yang berkumpul untuk menonton film. Oh ya teman, ada satu hal yang aku pikirkan hari ini.  Betapa aku ingin mengubah sedikit sikapku kepada seseorang. Aku hanya ingin bersikap lebih baik padanya, salah satunya berkata halus. Yah, mungkin karena aku sering membentaknya tanpa alas an yang jelas. Sebelum pintu yang satu itu tertutup maka aku akan berjalan ke arahnya dan berhasil melangkahkan kaki melewatinya. Yey… Hwaiting Intaaaan
Oke teman, agaknya sudah cukup untuk cerita yang sebenarnya ga jelas ini. Oh ya tahukan kalian kata kunci yang kalian temukan dalam cerita ini?
Silahkan jawab sendiri yaaa..

 Di depan tana yang selalu menemaniku
 Lab 303
19/4/2012                          
12:26 AM

Jumat, 06 Mei 2011

Ceritaku


Akhirnya Dia menjawab permintaanku. Masih teringat jelas apa yang aku minta kepadaNya pada sepertiga malam itu dan akhirnya Dia pun mengabulkannya. Satu pesan itu datang tanpa kuduga, lewat temanku mungkin yang membuatnya mengrimkan pesan itu kepadaku. Dan aku tahu bahwa Alloh telah mengirimkan seseorang untuk membantuku.
Malam ini, hujan menguyur kota yang saat ini aku tempati, bersama tiga temanku aku berada disebuah ruangan berukuran 4x2 meter persegi. Udara malam terasa berbeda dari biasanya, biasanya terasa begitu panas, satu kipas angin kecil tak henti-hentinya bergoyang untuk menghilangkan keringat kami. Namun, malam ini hujan dan angin dari langit tiba-tiba datang, mungkin mereka merasa iba melihat kipas angin kecil yang kecapekan bergoyang untuk memberikan hawa segar bagi empat orang penghuni kamar.
Dua orang temanku berada tepat di depan pintu kamar, hanya bertahan beberapa menit hujan pun mereda. Ia mungkin tak sengaja lewat pada malam ini, namun jejak-jejak kedatangannya masih terlihat jelas di jalanan. Tetesannya tak sederas tadi, dan suara petir perlahan mulai menghilang. Satu temanku sibuk memainkan handphonenya sambil tiduran diatas kasur kesayangannya. Sedangkan aku, masih berada di depan laptop yang berhasil aku sita dari temanku. Aku menunggu kedatangan temanku yang akan menjemputku untuk pulang, namun sejak tadi tak ada balasan darinya. Beberapa kali aku mengirim pesan singkat padanya dan masih belum ada jawaban. Akhirnya aku pun harus masih disini.
Pagi – pagi aku membuka facebook dari handphoneku, kulihat ada satu pesan masuk ke inbox account facebookku. Aku tak membayangkan dari siapa dan apa isi pesan itu. Biasanya aku tak peduli dengan pesan yang masuk di inbox facebookku, namun kali ini entah kenapa aku ingin melihatnya. Dan ternyata benar, pesan dari seseorang yang sering aku masukkan disetiap ceritaku walau mungkin hanya sedikit orang yang menyadarinya dan mungkin dia sendiri tak menyadarinya. Isinya singkat, kalimat pertama, aku tak mengerti apa yang tersirat dibalik kalimatnya itu, kalimat yang ambigu, menurutku, mendatangkan banyak persepsi yang saling berontak di pikiranku, entah aku mau memandangnya dalam sisi positif atau negatif. Sedangkan, kalimat yang kedua isinya sangat jelas, hanya sebatas permintaan maaf darinya.
Pagi itu aku datang ke kampus dengan satu cerita yang akan kubagikan pada teman baikku, dan saat itu pula dia mengatakan bahwa dia mempunyai rahasia untukku. Kami bertukar cerita akhirnya dia mengaku bahwa dia yang telah mengirimkan pesan singkat kepada dia yang “berbeda” untuk membuka blogku. Terkejut ya, namun biarlah karena kupikir tanpa dia tak mungkin aku mendapatkan pesan dari dia yang “berbeda”. Kudengar beberapa kalimat yang keluar dari mulutnya, terlihat sebel, karena dia tak mendapatkan balasan atas pesan yang dikirimya lewat chat facebook. Sedangkan temanku yang lain, pada malam itu juga mengirimkan pesan lewat chat facebook dan dia yang “berbeda” berulang kali membalasnya. Aku hanya tersenyum walaupun saat itu aku tak tahu apa yang ada dipikiranku.
Aku tak ingin melewatkan jalan yang telah diberikan Sang Pemilik Hati kepadaku, ingin aku segera membalas pesan singkatnya itu, tentu lewat message facebook juga. Sampai saat ini aku sudah menuliskannya dua kali, kalimat yang sangat panjang untuknya, aku merasa memang harus menuliskan banyak kalimat yang bisa mewakili perasaanku selama ini. Namun dua kali pula aku menghapusnya dan tak jadi mengirimnya. Tak tahu kenapa, aku merasa apa yang aku tulis mungkin akan sia-sia, apa gunanya aku mengatakan yang kurasakan selama ini kepadanya, bagiku cukup aku dan  Tuhan yang tahu apa yang kurasakan.
Aku masih menunggu temanku datang menjemputku, masih di depan laptop..
Sebenarnya aku tak tahu apa yang saat ini kurasakan, aku seperti mati rasa, entahlah aku berusaha dan memaksa diriku untuk tak memikirkan hal itu, namun aku juga tak bisa menolak jika disaat-saat tertentu aku mulai memikirkannya lagi. Aku tak ingin terganggu dengan semua ini. Aku disini bukan untuk berpusing-pusing ria memikirkan hal ini. Sejenak agak tenang setelah menghadapi UTS minggu ini, namun minggu depan jadwal rapat sudah mulai menunggu dengan segala agenda yang tak kalah dalam menyita waktu dan menguras tenaga serta pikiranku. Dan yang aku inginkan, dia disampingku ketika aku merasa lelah, menjadi tempatku mengadu dan bertukar pikiran, aku hanya mengutip beberapa kalimat yang pernah ia katakan padaku. Aku mungkin akan mengingat setiap kata yang ia katakan padaku, itulah yang membuatku sampai saat ini masih seperti ini.
Ketidaktahuanku pun bertambah, aku tidak tahu apa yang saat ini dia inginkan. Mungkin dia ingin menjauh dariku. Jika benar, baiklah itu keputusannya. Apa aku akan diam saja? Beberapa temanku menanyakan itu. Dan aku menjawab Lalu apa yang bisa aku lakukan? Bukan seperti itu, bukan diam menanti apa yang dia katakan padamu, tapi harus berusaha mempertahankannya, semua akan sia – sia jika tak dipertahankan, dan tak salah jika mencoba. Benar akan sia-sia dan bukan bukan tak mencoba. Mungkin mereka tak melihat apa yang kulakukan, mungkin mereka hanya melihatku terdiam dan tersenyum cengar cengir ketika mereka menasehatiku dan mungkin mereka geram melihat responku yang tak menggebu atau terkesan tak peduli. Namun, tahukah mereka apa yang aku lakukan? Apa yang terlintas dipikiranku ketika mereka menuturiku dengan sejuta kata-kata? Untuk kedua kalinyaaku menjawab hanya aku dan Tuhan yang tahu.
Kembali lagi, sampai detik ini aku masih bingung akan membalas pesannya atau tidak, jika iyya apa yang nantinya terjadi? Kemungkinan terburuk tiba-tiba datang, dan kemungkinan baik hanya kecil persentasenya. Namun aku ingat tulisan yang terpampang di dinding kamarku, tulisan sebagai pengingatku “Mulaiah berpikir positif”, maka aku pun akan berpikir positif apapun yang terjadi. Sepertiga malam itu aku meminta kepdaNya agar memberikan jalan keluar atas segala masalahku, dan satu persatu jalan telah Dia tunjukkan kepadaku. Satu lagi jalan yang Dia tunjukkan, sedangkan sampai saat ini aku masih belum berani melangkah. Hanya berdiri di depan jalan itu.
“ Satu hal yang pasti jika aku mulai melangkahkan kakiku adalah aku harus siap untuk mengangis.  Apa aku siap? Mungkin, namun agaknya tidak. Aku tidak siap untuk menangis. Aku tak bisa membayangkan berapa banyak air mata yang akan aku keluarkan atau mungkin tak setetespun air mata yang keluar karena hatiku telah membeku. “
Satu paragraf diatas menunjukkan aku yang saat ini, yang masih melanggar apa yang aku sendiri tuliskan diatasnya. Yah, aku menuliskan untuk positif thinking namun paragraf diatas menunjukkan kenegatif  thingkinganku masih mengikutiku dari dekat.

sore hari dalam perenungan


Selasa, 22 Maret 2011

dari "seorang" kawan

“ Hidup ini tak kan indah tanpa masalah. Jika semua baik-baik saja, tak ada air mata, tak ada beban pikiran, tak ada kesedihan, semua akan terasa hampa. Apa enaknya hidup hanya dalam kebahagiaan? Kau tidak akan mendapat “sensasi” dari setiap masalah. Kau mau hidupmu datar sedatar landasan pesawat terbang? Akan lebih menyenangkan ketika kau dapati kerikil-kerikil di setiap langkah hidupmu dan kau dapat melewatinya dengan mudah.
Tak ada yang berharap masalah itu datang. Tapi tak ada salahnya ketika kau dengan tangan terbuka memberikan senyuman manis untuk kedatangan sang masalah. Jadikan masalah sebagai tamu besarmu yang harus kau layani untuk segera diselesaikan. Tak perlu kau lari. Lari sejauh mungkin hanya membuatmu lelah dan hanya sedikit kemungkinan untukmu dapati suatu titik pemberhentianmu. Buat apa berlari ketika kau bisa melangkahinya dengan mudah. Butuh waktu yang sedikit lama namun kau tak akan merasakan kelelahan sama seperti saat kau berlari. Lari, larilah hanya untuk mencapai mimpimu, bukan lari untuk menghindari masalahmu. ^.^”
(oleh seorang kawan yang selalu setia disampingku, memberikanku semangad untuk menghadapi setiap permasalahan dalam hidupku, Zaitun Hakimiah NS.. terima kasih kawan..)

“ALL IS WELL .....!!!”
(singkat, padat dan jelas, kata-kata yang tak asing bagi kebanyakan orang, mengadopsi dari sebuah film yang begitu bermakna “3Idiots” inilah temanku yang satu ini menyampaikan komentarnya. Memang tak banyak kata yang dia tulis, namun begitulah dia, dengan segala kecuekannya dan segala kesibukannya maen game, dia masih saja bersedia mendengar celotehku dan sesekali memberikan saran yang terasa begitu “menusuk”, tapi itulah yang sebenarnya.. terima kasih juga buatmu kawan, Guruh Maryana  Putra..)

“ Selamat datang masalah, perkenankan aku menjamumu dan memperlakukanmu layaknya tamu agung yang sesekali singgah dalam hidupku. Tak akan kubenci kau, karena kaulah yang membuatku semakin kuat dan menjadikanku semakin dewasa. Beruntungnya diriku ketika bisa memperlakukanmu dengan baik tanpa menyakitimu, dan mengantarkan kepergianmu dengan senyuman dariku ^.^"


~masih di depan komputer Ari~
           21 Maret 2011

Selasa, 15 Februari 2011

Alone

Seingatku kemarin semuanya masih lengkap, berkumpul di kampus, penuh canda tawa dan kegembiraan. Namun saat ini berbeda, hanya sepi yang terasa. Satu persatu dari kalian pergi meninggalkanku, bukan untuk selamanya, aku tahu hanya sebentar dan kalian pasti kembali ( kayak lagu aja ). aku juga tak berjak melarang kalian pergi, dan jika aku merengek sambil guling-gulingpun tak membuat kalian goyah untuk pulang. Kalian pasti rindu dengan semua yang ada di rumah. Begitupun aku. Ada beberapa hal yang membuatku tak mengikuti jalan kalian, pertama aku ingin menemani temanku di kos, ia masih ada tanggungan uas. Aku tak sampai hati meninggalkannya sendirian di kos. Aku tak tahu apakah dia tahu tentang alasanku tak pulang kampung. Tapi itu tak jadi masalah. Kedua, aku ingin menanti datangnya novel yang telah lama aku nanti. Ketiga, aku masih ingin disini. Mungkin hanya tiga alasan utama kenapa aku tak pulang.

Detik ini aku sendirian, teman sekosku pergi ke rumah temannya sedangkan aku hanya duduk di sudut kamar dekat pintu sambil menulis note ini. Membayangkan wajah kalian, mungkin jika kalian masih ada disini aku bisa mengungsi ke kos kalian. Namun sesekali menjadi penunggu rumah bukan hal yang buruk :)

Aku merasa sepi namun tak ingin mengurangi rasa sepi itu. Justru menambah suasana menjadi sepi. Yah, sejak tadi pagi banyak sms masuk ke hapeku, namun tak satupun aku membalasnya. Hanya ketika ibuku dan adekku menelpon barulah aku menyentuh hape yang biasanya tak pernah lepas dari genggamanku. Maaf bagi kalian yang smsnya gak aku bales, sebenarnya alasan utama aku tak membalasnya karena aku tak ada pulsa, dan aku sengaja tak mengisi pulsa karena belum ada keinginan untuk mengisi pulsa.

Satu minggu sebelumnya, seseorang yang begitu baik bagiku tiba-tiba menjauh. Aku ga tahu kenapa, tapi itu yang aku rasakan. Salah atau tidak prasangkaku, biarlah dia yang tau.

Jumat, 11 Februari 2011, Mpu dan Fitra pulang ke Pati, membuat aku iri karena mereka satu daerah denganku. Dan sampai bulan ini mereka telah 2 kali pulang kampung. Sedangkan aku, satu saja belum.

Minggu, 13 Februari 2011, setelah seharian bersama di Bekasi dan merampok rumah Ari, dengan berat hati aku mengantar Siti dan Dewi ke terminal Pulogadung. Mereka akan oulang ke Serang dan baru kembali kesini insyaAllah Jumat.

Senin, 14 Februari 2011, si Mus setelah mencicipi mie ijo kemudian pulang juga. Dengan membawa kejengkelan padaku karena ia berhasil menipu 9 orang+1 dosen.

Senin, 14 Februari 2011, orang yang sok sweet ketika perpisahan pun akhirnya pulang ke kampungnya. Setelah seharian penuh aku bersama dengannya, akhirnya jam 19.00 ia meninggalkanku. Kita berpisah di Plumpang, dan ia memberikan silverquin untukku ( sok sweet banget kan??).

Selasa, 15 Februari 2011, si boii juga pamitan mau mudik. Yah, selamat jalan boii, jangan lupa oleh2nya. Satu pesanku, perdalamlah bahasa Jawa ketika kau berada di Jawa. hehehe :D

Disini aku tak sendiri, masih ada teman-teman lain bersamaku. Namun semua tetap terasa berbeda tanpamu kawan. Aku lebih memilih sendirian jika harus berada di sekumpulan orang yang tak akrab denganku. Aku hanya bisa bilang semoga liburan kalian menyenangkan, terima kasih karena selama liburan kalian masih mengingatku dan tak meninggalkanku sepenuhnya. Aku tak apa disini, aku masih bisa fban, itu cukup menghiburku. Selain itu aku pun masih bisa menulis, rasanya sperti sedang bercerita kepada kalian. Maaf kalo ceritaku ini aneh, ya begitulah..

Have a nice holiday :)
CU next time..
I always waiting for u..

       ~15 Februari 2011~
              18.46 WIB
masih di sudut kamar dekat pintu

Selasa, 25 Januari 2011

Tingkah para makhluk bernomor--

 Serbu..

Tengok kanan, tengok kiri, lihat depan, lihat belakang. Melebihi orang yang mau menyeberang jalan. Yah, saat ini itulah yang aku lakukan, duduk di meja kebesaran makhluk bernomor 7, sedang mejaku masih setia ditempati makhluk  bernomor 7 pula. Dia ingin bertukar tempat denganku. Tak masalah bagiku, karena menurutku duduk di singgasananya lebih menyenangkan, selain posisinya yang strategis, kompinya pun lebih jelas dari punyaku. Aku yang biasanya melihat tulisan sebesar semut di kompiku, sekarang bisa memompa semut itu menjadi agak lebih besar di kompi dia. Satu kata untuknya “Terima kasih “.

            Masih melihat sekitar, beberapa orang sibuk mondar mandir kedepan lalu kebelakang lagi, bukan menyapu atau mengepel. Tapi hanya sekedar mondar mandir sambil berkata-kata yang aku juga ga tau apa yang mereka ributkan. Sesekali suara tawa temanku pecah menambah semarak kelasku. Sedangkan aku, duduk menatap monitor yang membatu. Monitor yang begitu sombong, sudah beberapa menit aku menatapnya namun ia tak juga menyapaku, bahkan untuk membalas senyumku pun tidak. Dasar..

            Ketika aku tetap dicuekkan monitor, aku mengalihkan perhatianku ke keyboard. Berharap dia tak sejahat monitor yang bersikap dingin padaku. Namun, agaknya perhatianku pun bertepuk sebelah tangan. Dia tak jauh beda dengan monitor. Aku semakin terasing.  Kembali ke sekitarku, mereka terlihat begitu serius melakukan hal yang memang menjadi makanan sehari-hari kami.. “Ngoding” itu bahasa kerennya. Mereka mengejar deadline pembuatan project akhir bagi kami, MI 1. Hanya tinggal dua minggu lagi waktu yang kami punya sebelum kami menghadapi sidang yang “horror” itu.

            Jika kalian bertanya apakah aku tak dapat tugas yang sama? Maka jawabannya aku pun dapat tugas. Sebenarnya project kali ini diusung oleh beberapa kepala dalam satu kelompok. Kenapa aku tak juga sibuk ngoding dan apakah projectku telah selesai? Jika jawabannya iyya, maka kelompokku adalah kelompok yang hebat karena bisa selesai terlebih dahulu, dan aku akan keliling kelas sambil membuka mulutku dan mengeluarkan suara ha ha  ha. Namun sayangnya tidak seperti itu. Projectku? Aku tak tahu bagaimana kabarnya. Aku sudah menyerahkannya kepada makhluk bernomor1, berharap dia mau menghandle project dan menyempurnakannya.

            Dia yang aku nanti-nanti tak kunjung datang, makhluk bernomor1 itu masih belum menampakkan batang hidungnya. Aku tak sabar ingin menanyakan padanya tentang perkembangan projectku. Apakah sudah bisa berjalan ataukah masih merangkak? Atau mungkin bias berlari, itu yang aku harapkan. Sudah beberapa kali aku dipertemukan dengan makhluk bernomor1 itu, dan dia selalu meninggalkan kesan yang mendalam ketika  kami kerja kelompok bareng. Hehehe,, tak perlu aku ceritakan apa kesannya itu. Just for me..

            Aku mendengar sedikit pembicaraan dari teman yang duduk disampingku dan teman yang duduk di belakang teman yang duduk di sampingku. Masih saja tentang project, aku mendengar kalo project mereka telah selesai. Alhamdulillah, kataku, sedang aku kembali mengingat  project kelompokku yang tak juga datang *masih menunggu makhluk bernomor1 datang*.

            Kepercayaan, itu yang saat ini aku coba terapkan. Mempercayaai seseorang yang memang sulit untuk kau percayai memang susah. Namun ak pikir, tak selamanya orang itu menyebalkan, dalam kekurangannya pasti ada sisi baiknya. Ak berharap kali ini dia tak mengecewakan kami. Setidaknya untuk kali ini saja. Dia memang sangat berarti bagi kelompokku, dia pintar.  Namun begitulah .

            Makhluk bernomor31 kembali mendatangiku, dengan sedikit tawanya ia kembali menunjukkan tanduk jahatnya. Dia tak percaya dengan sebuah kepercayaan, mungkin memang pantas setelah apa yang dia dapatkan. Padahal awalnya ia  percaya pada temannya. Dasar makhluk yang aneh..! Dia masih saja mencoba mempengaruhiku dengan ketidakpercayaan, Namun aku juga heran bahkan saat ini pun ia menyerahkan projectnya kepada temannya  itu. Dasar  ga jelas. Makhluk bernomor27 juga mengunjungiku, saudaraku setanggal, bulan, tahun lahir. Hehehe.. Dia hanya sebentar, hanya mengucapkan satu patah kata lalu kembali ke peraduannya.

            Makhluk bernomor31 kembali bertingkah, ia menjadi asistenku yang setia membalas sms yang masuk ke hapeku. Mungkin menurutnya itu seru, yah beginilah kami. Hampir tak ada rahasia diantara kami. Inilah hakikat sebuah ke’sepaket’an..
           
            Beberapa kali pintu terlihat dibuka, beberapa kali juga terlihat makhluk-makhluk masuk ke ruangan bernomor 406 ini. Dan yang aku harap-harapkan tak juga datang. Tiba-tiba pintu terbuka lagi, akhirnya datang juga, makhluk bernomor1 yang aku nanti-nanti yang membawa project kami. Dengan langkah cepat, aku melangkahkan kaki menuju meja dimana makhluk bernomor16 berada, disana kami bertiga melihat perkembangan project kami. Alhamdulillah project kami lumayan, walaupun masih banyak yang harus disempurnakan. Tapi aku percaya kami akan berhasil menggarap project besar ini. Amin y Alloh..

            Hidupku kembali terusik ketika makhluk bernomor31 datang lagi, ia semakin bertingkah. Membalas sms yang masuk ke hpku dengan sesuka hatinya. Dan parahnya selain berkata asal dia juga mengurangi tingkat kecoolanku di mata orang itu. Benar-benar parah. Dan yang paling parah dia juga membuat status d fb yang bener-bener bikin aku tertawa membacanya. Hal itu sampai mengundang tetua di kelas kami, ya makhluk bernomor4 pun berkomentar ketika melihat status yang baru saja diupdates itu. 

*aku hanya gelenggelengkepala melihat tingkah  makhluk bernomor31 yang mulai menunjukkan tanduk 4nya itu..

Ckckckck…

           

           

           

Minggu, 19 Desember 2010

Demam Pulkam menyerang..


17-12-2010
Yey ..!!!!!!
“LIBUR SATU TAHUN..!!”, pekikku dalam hati..
Meluapkan semua yang ada di hatiku, rasanya lega melihat selembar kertas pengumuman yang tertempel di mading gedung B lantai 3, disana tertulis “ kuliah terakhir pada tanggal 23 Desember 2010 dan kembali masuk tanggal 3 Januari 2011”..
Betapa senang hatiku, bagaikan mendapat setetes air sementara aku berada di tengah gurun yang gersang, yang haus akan keluarga, merindukan mereka semua yang ada di kampung halamanku. Tak sabar aku menanti saat itu tiba, ya jika dihitung detik ini juga maka enam hari lagi aku pulang. Enam hari, bukan waktu yang lama, namun akan terasa begitu lama ketika kau berada dalam sebuah penantian. Akan tetapi, selama apapun aku akan menunggu untuk sebuah kebahagian. Hehehehe. Detik-detik menjelang kepulanganku aku merasa ada yang aneh, membayangkan sambutan apa yang akan diberikan keluargaku, mungkin aku terlalu PD jika memikirkan ini, tapi mungkin seperti itu yang akan dilakukan nenekku saat melihat cucunya pulang ke rumah setelah sekitar empat bulan berada di kota orang.
“Mau dimasakkin apa?”, aku teringat kata-kata itu, dua setengah tahun yang lalu saat aku baru pertama kali pulang dari kos, saat itu aku baru mencoba menjelajahi dunia anak kos. Di rumah terasa di surga, apapun yang kau inginkan sebisa mungkin akan terpenuhi. Tak seperti Aladin yang hanya mempunyai tiga pemintaan, sedangkan kau bisa memiliki unlimited permintaan.. Bak seorang anak raja yang berada di istana, semua terasa begitu lengkap.
*Kembali ke topik..*
Ya, hari ini 18-12-2010..
Pagi-pagi sekali aku dan teman-temanku sudah sibuk dengan urusan tiket, kami berencana membeli tiket kereta hari ini juga untuk mewaspadai lonjakan penumpang menjelang natal. Untuk itu, kami sepakat mengirimkan utusan untuk pergi ke stasiun menyiapkan “gold card” yang akan memperlancar perjalanan kami.
Akhirnya kertas yang tak berukuran besar  itu telah berada di kantongku, satu perlengkapan untuk pulkam  beres. Yeah.. Agaknya terlalu lebay jika membicarakan pulkam dengan seheboh ini, namun ini memang moment yang aku dan semua temanku tunggu..
Demam pulkam*..
Mungkin virus itu yang sekarang munyerangku, menjalar-jalar bagai akar mangrove menyebar  ke seluruh tubuhku.  Tak ada persiapan spesial untuk pulkam. Hanya saja aku menyiapkan sesuatu yang khusus. Oleh-oleh sederhana untuk seseorang di kampung telah siap. Untuk adekku tersayang, walaupun kerap kali “bercekcok”, namun aku tahu dia sangat merindukanku, begitupula yang aku rasakan padanya. Hanya sebatas oleh-oleh sederhana dari kakakmu yang “sok cool” ini, semoga kau menyukainya adekku.
Hanya untuk adekku, empat orang lainnya yang berada di kampung mungkin tak seberuntung adekku yang akan mendapatkan buah tangan dariku. Aku pikir mereka tak perlu buah tangan, mengingat usia mereka yang tak muda lagi. Mungkin mereka lebih membutuhkan kehadiranku untuk mengobati rasa rindu mereka, atau malah menjadi orang yang selalu merepotkan mereka dengan segudang sikap dan sifat yang aku miliki. Entahlah, namun mereka pasti amat sangat dan benar-benar menantikan kedatanganku. Mereka, Bapak, Ibuk, mbah Yang, dan mbah Min. Orang-orang yang begitu berarti dalam hidupku.
Satu bulan yang lalu, lewat pesan singkat, aku tahu dari adekku bahwa ada tiga penghuni baru di rumahku. Aku pun penasaran, siapa mereka. Dan adekku berkata bahwa mereka adalah penerus Bitis. Terkejut mendengarnya, sebelumnya tak ada kabar apapun, namun tiba-tiba Bitis membawa keturunan baru untuk bergabung menjadi keluarga kami. Nampaknya aku mempunyai PR yang harus segera aku kerjakan, yaitu memberi nama “keturunan Bitis”, tiga keturunan berarti tiga nama. Sampai saat ini akupun belum menentukan siapa nama yang pas untuk mereka, aku masih menunggu wangsit dalam memberi nama bagi mereka. Hehehe... Jangan kau anggap serius kawan, jika kau tahu pastilah kau terkejut. Nah, sekarang akan kuberitahu padamu siapa Bitis itu. Bitis adalah nama “KUCING” kesayanganku. Hehehe..  Sejarahnya sangat panjang tentang asal mula kehadiran Bitis dalam kehidupan kami. Walaupun hanya seekor makhluk tak berakal, aku dan keluargaku tetap mengganggap Bitis seperti bagian dari kami. Tak jarang kehadirannya juga membawa keceriaan dalam hidup kami, maen-maen, mengelus-elus, berlari-larian dengan Bitis adalah hal yang sudah lama tak aku lakukan. Sangat rindu..